Rekindling the Spirit of Bandung: Global South Scholars Call for a New World Order at IPDN’s 70th Bandung Conference
Jatinangor, West Java—October 28, 2025, The Institute of Public Administration (IPDN) hosted an international plenary session titled “Bandung at 70: To Build the World Anew”, commemorating the 70th anniversary of the 1955 Asian-African Conference. Bringing together prominent scholars and experts from Asia, Africa, Europe, and the Americas, the event reignited the Bandung Spirit as a foundation for reimagining global cooperation amid today’s geopolitical crises.
The plenary, chaired by Prof. Darwis Khudori (Université Le Havre Normandie, France) and co-chaired by Prof. Nurliah Nurdin (IPDN, Indonesia) and Dr. Baskara Wardaya (PRAKSIS, Indonesia), featured influential thinkers such as Manoranjan Mohanty (India), Connie Rahakundini Bakrie (Indonesia/Russia), Qing Shi (China), Fulufhelo Netswera (South Africa), Beatriz Bissio (Brazil/Uruguay), Olga Volosyuk (Russia), and Bruno Drweski (Poland/France).
Prof. Connie Rahakundini Bakrie highlighted that the Bandung legacy remains vital for reshaping the world order: “Soekarno’s vision of the Non-Aligned Movement remains powerful, a spirit of civilizational shift that urges us to build a collective consciousness where BRICS provides the muscle and ASEAN the mind.” Similarly, Prof. Mohanty from India urged for people-centered international relations, stating that the world must “strengthen the UN as a democratic global institution and support BRICS and South-South initiatives.”
From the Eurasian perspective, Prof. Olga Volosyuk drew a direct historical line from the Bandung Conference to the BRICS alliance, noting that the group’s motto, “Building a Better World Together” echoes Sukarno’s dream of justice and equality among nations. Latin American scholar Beatriz Bissio underscored the continued relevance of Bandung’s anti-imperialist message, lamenting the ongoing effects of the Monroe Doctrine in her region while advocating for a “new form of internationalism based on people, not states.”
Representing Africa, Prof. Fulufhelo Netswera emphasized the urgency of transforming words into action: “We, the people of the Global South, must ensure tomorrow is a better world than what we inherited from our forbearers at Bandung 1955.” Meanwhile, Chinese scholar Qing Shi called for “a united front for South-South cooperation” and urged the world to “step out of colonial knowledge frameworks and build anew.”
In his closing remarks, Prof. Khudori reaffirmed that the Bandung Spirit remains not just a historical memory but a living philosophy for global justice. The conference concluded with a symbolic book launch, “To Build the World Anew in a Global Perspective,” reinforcing IPDN’s commitment to nurturing intellectual collaboration and policy innovation across the Global South.
Menghidupkan Kembali Semangat Bandung: Cendekiawan Global Selatan Menyerukan Tatanan Dunia Baru di Konferensi Bandung ke-70 IPDN
Jatinangor, Jawa Barat—28 Oktober 2025, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) menyelenggarakan sesi pleno internasional bertajuk “Bandung di Usia 70: Membangun Dunia Kembali”, dalam rangka memperingati 70 tahun Konferensi Asia-Afrika 1955. Dengan menghadirkan para cendekiawan dan pakar terkemuka dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, acara ini mengobarkan kembali Semangat Bandung sebagai landasan untuk menata kembali kerja sama global di tengah krisis geopolitik saat ini. Sidang pleno yang dipimpin oleh Prof. Darwis Khudori (Université Le Havre Normandie, Prancis) dan diketuai bersama oleh Prof. Nurliah Nurdin (IPDN, Indonesia) dan Dr. Baskara Wardaya (PRAKSIS, Indonesia) ini menghadirkan para pemikir berpengaruh seperti Manoranjan Mohanty (India), Connie Rahakundini Bakrie (Indonesia/Rusia), Qing Shi (Tiongkok), Fulufhelo Netswera (Afrika Selatan), Beatriz Bissio (Brasil/Uruguay), Olga Volosyuk (Rusia), dan Bruno Drweski (Polandia/Prancis).
Prof. Connie Rahakundini Bakrie menekankan bahwa warisan Bandung tetap vital dalam membentuk kembali tatanan dunia: “Visi Soekarno tentang Gerakan Non-Blok tetap kuat, sebuah semangat perubahan peradaban yang mendorong kita untuk membangun kesadaran kolektif di mana BRICS menjadi kekuatan dan ASEAN menjadi pemikiran.” Senada dengan itu, Prof. Mohanty dari India mendesak hubungan internasional yang berpusat pada rakyat, dengan menyatakan bahwa dunia harus “memperkuat PBB sebagai lembaga global yang demokratis dan mendukung BRICS serta inisiatif Selatan-Selatan.”
Dari perspektif Eurasia, Prof. Olga Volosyuk menarik garis sejarah langsung dari Konferensi Bandung ke aliansi BRICS, dengan mencatat bahwa moto kelompok tersebut, “Membangun Dunia yang Lebih Baik Bersama”, menggemakan impian Sukarno tentang keadilan dan kesetaraan antarbangsa. Cendekiawan Amerika Latin Beatriz Bissio menggarisbawahi relevansi pesan anti-imperialis Bandung yang berkelanjutan, menyayangkan dampak Doktrin Monroe yang masih berlanjut di wilayahnya sambil mengadvokasi “bentuk internasionalisme baru yang berbasis pada rakyat, bukan negara.”
Mewakili Afrika, Prof. Fulufhelo Netswera menekankan urgensi untuk mengubah kata-kata menjadi tindakan: “Kita, masyarakat di belahan bumi selatan, harus memastikan hari esok adalah dunia yang lebih baik daripada yang kita warisi dari para pendahulu kita di Bandung 1955.” Sementara itu, cendekiawan Tiongkok Qing Shi menyerukan « front persatuan untuk kerja sama Selatan-Selatan » dan mendesak dunia untuk « keluar dari kerangka pengetahuan kolonial dan membangun kembali. »
Dalam sambutan penutupnya, Prof. Khudori menegaskan kembali bahwa Semangat Bandung bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan filosofi hidup untuk keadilan global. Konferensi ditutup dengan peluncuran buku simbolis, « Membangun Kembali Dunia dalam Perspektif Global, » yang memperkuat komitmen IPDN untuk memupuk kolaborasi intelektual dan inovasi kebijakan di seluruh belahan bumi selatan.
